kompas

JAKARTA, KOMPAS.com — Pasar modal Indonesia tahun 2016 mencatatkan kinerja yang menjanjikan. Sejumlah kebijakan pemerintah menjadi faktor pendorong membaiknya kinerja pasar modal.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengatakan, pengaruh domestik terhadap pasar modal Indonesia antara lain paket kebijakan pemerintah, tingkat inflasi yang terkendali, dan penurunan tingkat suku bunga oleh pemerintah.

Selain itu, pengaruh lain adalah kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty.

“Adapun pengaruh global adalah dipertahankannya Fed Fund Rate pada target 0,25 sampai 0,50 persen dan hasil referendum Inggris, yang turut memberikan stimulus tersendiri bagi pasar modal Indonesia,” kata dia di Bursa Efek Indonesia, Rabu (10/8/2016).

Nurhaida menyatakan, pertumbuhan indeks pasar modal Indonesia, yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menempati peringkat terbaik kedua di Asia, dengan pertumbuhan sebesar 20,20 persen dan berada pada level 5.440,29 pada 9 Agustus 2016.

Peringkat pertama ditempati indeks SET Thailand dengan pertumbuhan 22,69 persen dan berada pada level 1.550,03 per 9 Agustus 2016.

Pertumbuhan IHSG tersebut jauh di atas negara tetangga, seperti indeks STI Singapura yang tumbuh 1,23 persen dan indeks KLCI Malaysia yang hanya tumbuh 1,11 persen.

Sementara itu, indeks Shanghai di China malah minus 8,21 persen.

Nilai kapitalisasi saham BEI dengan denominasi dollar AS tumbuh 100,75 miliar dollar AS dari 344,36 miliar dollar AS pada tanggal 4 Januari 2016 menjadi 447,43 miliar dollar AS pada tanggal 9 Agustus 2016, atau tumbuh sekitar 29 persen.

Dengan demikian, pertumbuhan nilai kapitalisasi saham BEI merupakan yang terbaik di Asia. Sementara itu, di peringkat kedua, ada SET Thailand dengan nilai kapitalisasi saham sebesar 425 miliar dollar AS per 9 Agustus 2016, tumbuh 28,50 persen.

Lagi-lagi angka ini jauh di atas negara-negara sekawasan di Asia. Sebagai perbandingan, nilai kapitalisasi saham HSI Hongkong hanya tumbuh 7,91 persen dan Nikkei 225 Jepang hanya tumbuh 0,40 persen.

Sementara itu, nilai kapitalisasi saham Shenzhen dan Shanghai di China masing-masing “tumbuh” minus 3,48 persen dan 7,34 persen.

Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : M Fajar Marta

LEAVE A REPLY